Inspirasi Junaedi RM Minang Indah: Tamatan SMP, Berbisnis Dari Nol, Kian Moncer Di Tengah Pandemi (1)

BANDAR LAMPUNG PUISI DAN SOSOK

Pengantar

Udah dari sononya, jodoh, maut, dan rezeki adalah ketentuan Allah semata.

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.

Penggalan kedua Qur’an Surat Ar-Ra’d ayat 11 di atas nyata terbukti salah satu diantaranya dari kisah pahit getir anak desa yang sederhana, bersahaja, dan berjiwa sosial tinggi satu ini.

Siapa kira, sebuah keputusan berani yang dia ambil 29 tahun lalu, adu nasib di ibu kota saat remaja, kelak berbuah manis naik kelas jadi pebisnis sukses, hingga miliki belasan cabang rumah makan Padang di Lampung saat ini?

Kepak sayap bisnisnya kian melebar, justru di saat imbas buas ekonomi gegara pandemi COVID-19 melanda setidaknya 217 negara terjangkit di antero planet Bumi, tak kunjung pergi.

Padahal, dia cuma tamatan SMP. Dari modal niat dan keringat, hingga Asih Liawati sang istri, Lintang, Fikri sang buah hati –harta paling berharga, kisah hidup dan perjuangan hidup pemilik RM Minang Indah Grup, Junaedi ini, semoga jadi bagian inspirasi Anda.

TN: BANDARLAMPUNG

Motivasi bijak “hasil tidak akan menghianati usaha”, cocok disematkan pada sosok pria pengusaha kuliner sukses satu ini.

Saat sejawat lainnya meradang tepar terpapar imbas buas ekonomi digebuk pagebluk COVID-19 kurun empat bulan terakhir sejak Maret 2020 lalu, pemilik Rumah Makan/RM Minang Indah Grup ini justru kokoh mengepakkan sayap.

Pembukaan beroperasinya cabang baru, kedua belas, RM menu aneka masakan Padang ini, di Jl Gajah Mada 49, Kotabaru, Tanjungkarang Timur, Bandarlampung, Rabu 15 Juli 2020, jadi pembuktian sukses hasil Junaedi, dalam melebarkan sayap usahanya.

Di tengah situasi kahar. Pandemi.

Warga Desa Bumisari, Natar, Lampung Selatan ini menggenapi sukses buka cabang baru ke-11, Jl Soekarno-Hatta 109 (By Pass) samping Lampung Post, Rajabasa, Bandarlampung yang telah dibuka untuk umum, 10 Juni 2020.

Ayah Lintang Aulia Nurmala Putri, dan Zulfikri Abdul Qodir ini figur sederhana, bersahaja. Jiwa sosialnya tinggi.

Di luar itu, bekal pengalaman pribadi menaklukkan cadasnya tantangan hidup, menyelami seluk-beluk dunia bisnis restoran Padang sejak zaman bujang, ikut menempa, membentuknya jadi pribadi pengusaha tahan mental, tahan banting, dan tentu saja matang.

Pengalaman, guru paling berharga.

Sebelum artikel ini tiba di ruang digital Anda, redaksi telah kurang tujuh bulan ini “memelototi” dinamika jibaku Bang Jun, pehobi sepak bola ini karib disapa, dari soal perencanaan bisnis, strategi ekspansi, hingga proses kreatifnya dalam membidik target lokasi usaha.

Alhasil, beroleh berkah ilmu gratis.

Berkebetulan, redaksi berkesempatan membersamai kiprah Junaedi yang di tengah kesibukannya, aktif berjibaku dalam sejumlah agenda solidaritas kemanusiaan merespons imbas buas ekonomi pandemi, yang dihelat oleh ormas Pejuang Bravo Lima (PBL).

Junaedi, tercatat salah satu pengurus. Mula bergabung Desember 2019, dia diamanati sebagai Wakil Ketua Bidang Sosial Politik DPD PBL Lampung.

Terkini, seiring pemantapan struktur personalia kepengurusan, dia geser posisi, dipercaya emban amanat jadi Kabid Pengembangan Usaha.

Diketahui rencana pelantikan pengurus DPD PBL Lampung periode 2019-2024 pimpinan Ary Meizari Alfian, dan wakil ketua Yanuar Irawan, sekretaris Reza Berawi, serta bendahara Miswan Rodi itu lama tertunda gegara pagebluk.

Bicara dedikasi, redaksi geleng kepala. Junaedi paten mengaktualisasikannya. Alamiah, bukan pencitraan, alih-alih cari muka. Integritasnya, boleh juga.

Sekadar pengingat, dalam kapasitas selaku penanggung jawab program Ramadan Peduli Ramadan Berbagi 1441 H/2020 DPD PBL Lampung, Junaedi tunai mandat dan ‘berkeringat’ memimpin helat donasi harian nasi kotak menu buka puasa racikan dapur Minang Indah, dan donasi mingguan paket sembako sumbangsih bersama PBL Lampung dan lembaga jejaring.

25 hari tanpa jeda, selama bulan suci Ramadan 1441 Hijriah, April-Mei lalu.

“Menjemput ridha Allah,” singkatnya tersengal, ulah menahan berat empat kantong paket sembako donasi dalam genggaman kedua tangannya, sambil menyusuri jalan setapak permukiman warga kurang mampu RT 15 Kelurahan Bumi Kedamaian, Bandarlampung, H19 Ramadan, 12 Mei 2020 lalu.

Kala itu, cuaca terik sangat. Redaksi turut tercekat. Topi pet kenaannya, tak bisa menutupi curah letih wajah Bang Jun –juga para relawan PBL lainnya, yang sigap mendistribusikan bantuan, penuh semangat. Membersamai, Ary Meizari pun turut berada di lokasi.

Kepada redaksi, Junaedi mengaku beroleh pengalaman spiritual dahsyat.

Dalam beberapa kesempatan ngobrol ringan, penggemar Real Madrid, dan Arema Malang ini tak bisa sembunyi syukur. Terpantau gemar bersedekah, ia juga rajin shalat. Ogah kufur nikmat.

Awal pekan ketiga Mei 2020, berlanjut Selasa (21/7/2020) petang, dua waktu terlama berburu kisah cerita kehidupan Junaedi dan perjuangan hidupnya.

Anak ketiga dari empat bersaudara ini notabene bukan berdarah Minang. Asli Banyumas, Jawa Tengah, kelahiran 31 Desember 1975. Kini dia 45 tahun.

Dan, anak desa berperawakan mungil ini bukan pula pengenyam sekolah tinggi. Cuma tamatan SMP negeri!

Dia lulusan SMPN 1 Wangon, di Jl Raya Utara 106, Mejingklak, Wangon, Kecamatan Wangon, Banyumas, 1991.

Di tahun yang juga tahun pertama kali McDonald’s resmi masuk Indonesia itu, Junaedi yang hampir genap 16 tahun, buat keputusan berani. Usai lulus.

Berbalut doa keluarga, berbulat hati. Tak mau buat susah orang tua. Merubah nasib, merantau ke ibu kota.

“Iya, merantau ke Jakarta. Iya anak desa ya, gak sekolah lagi merantau ke Jakarta. Sampai saat ini, masih seperti itu pola pikirnya anak desaku,” ujar dia mengenang tren masa sebaya.

Muhibah ke ibu kota, Junaedi langsung diterima bekerja di RM Putra Minang, bilangan Pluit, Jakarta Utara.

Disini dia belajar. Semua, A-Z bisnis RM tekun dia pelajari. “Dari gak bisa apa-apa, sampai bisa apa-apa. Empat tahun di situ,” tutur dia.

Dicek di aplikasi peta digital, RM di Jl Pluit Selatan Nomor 22 RT 01 RW 09, Kelurahan Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara itu sekarang masih ada.

Seperti apa langlang buana perjuangan hidup Junaedi selanjutnya, taklukkan kejamnya ibu kota? Kapan pertama kali menginjakkan kaki di Lampung? Bagaimana suka dukanya merantau jauh demi hidup terus tersambung? Bersambung. [red/Muzzami/LVl]

:Views: 494 Total, Dilihat Hari ini 2 Kali

Bagikan Trennews

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *